Rabu, 06 April 2016

Makalah Pengembangan



PENGEMBANGAN PERILAKU INOVATIF
ANGGOTA ORGANISASI

                                                                                 


MAKALAH
Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah
Pengembangan Sistem Manajemen Pendidikan
yang dibina oleh Ibu Desi Eri Kusumaningrum, S.Pd., M.Pd





Oleh

Ajeng Fajar Citra Novita                    130131600391
Desi Wulandari                                   130131600399 
Dini Fatma Maulaya                           130131600398 
Milda Selvia Wulansari                       130131600379
Ridzal Eko Sopi’i                                130131600369
                       




UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN ADMINISTRASI PENDIDIKAN
April 2016


KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah yang Maha Kuasa yang telah memberikan Rahmat serta karunia-Nya kepada kami. Sehingga, kami berhasil menyelesaikan makalah yang berjudul “Pengembangan Perilaku Inovatif Anggota Organisasi”. Makalah ini dapat diselesaikan tidak lepas dari dukungan berbagai pihak. Untuk itu, kami menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1.        Ibu Desi Eri Kusumaningrum, S.Pd., M.Pd selaku dosen pembimbing matakuliah pengembangan sistem manajemen pendidikan;
2.        Orangtua yang telah memberikan restu dan doanya;
3.        Teman-teman Administrasi Pendidikan Offering A Universitas Negeri Malang 2013, dan
4.        Pihak-pihak yang telah membantu penulisan makalah ini.
Kami menyadari makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu, kami memohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam penulisan dan penyampaian materi dalam makalah ini. Selanjutnya kami mengharap kritik dan saran untuk kesempurnaan makalah selanjutnya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pendidik, peserta didik, dan masyarakat umum.

                                                                                     Malang, 07 April 2016


                                                                                     Penyusun,





BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah
Organisasi merupakan sarana untuk melakukan kerjasama antara orang-orang dalam rangka mencapai tujuan bersama, dengan mendayagunakan sumber daya yang dimiliki. Pertumbuhkembangan IPTEK, sosial, ekonomi, dan lingkungan menimbulkan permasalahan yang harus dihadapi organisasi menjadi semakin luas dan kompleks. Permasalahan tersebut terus berkembang sesuai percepatan perubahan yang terjadi. Pengembangan organisasi merupakan suatu usaha jangka panjang, bukan usaha jangka pendek, dalam arti pengembangan organisasi adalah suatu usaha terus-menerus atau berkelanjutan dan suatu kesediaan untuk melakukan perubahan secara berkelanjutan.
Mengelola suatu perubahan memanglah hal yang sulit. Untuk ukuran kapasitas kepemimpinan seseorang salah satunya adalah kemampuannya dalam mengelola perubahan. Perubahan-perubahan dibidang teknologi, ekonomi, politik, sosial budaya membawa dampak positif dan negatif terhadap dunia pendidikan dan tidak terlepas terhadap para pemimpin yang mengelolanya. Perubahan dramatis dan tidak dapat diproduksi ini mengakibatkan adanya tuntutan kepemimpinan yang dapat mengantisipasi melalui perubahan terencana. Manusia merupakan faktor penting dalam perubahan terencana. Pemimpin era globalisasi adalah seorang pemimpin yang harus mempunyai pandangan luas, kreatif, inovatif tidak menaruh ketakutan dan suka akan ide-ide baru, punya visi dan mau belajar terus. Oleh karena itu, penulis akan membahas tentang pengembangan perilaku inovatif anggota organisasi.

B.  Rumusan Masalah
1.      Apa arti dan pentingnya inovasi?
2.      Bagaimana pengembangan struktur dan lingkungan inovatif organisasi?
3.      Bagaimana teknik motivasi staf untuk berinovasi?
4.      Bagaimana mendesain dan mengembangkan model kepemimpinan partisipatif untuk pemberdayaan staf?

C.      Tujuan
1.      Untuk mengetahui arti dan pentingnya inovasi.
2.      Untuk mengetahui pengembangan struktur dan lingkungan inovatif organisasi.
3.      Untuk mengetahui teknik motivasi staf untuk berinovasi.
4.      Untuk mengetahui cara mendesain dan mengembangkan model kepemimpinan partisipatif untuk pemberdayaan staf.




BAB II
PEMBAHASAN

A.      Pengertian Inovasi dan Pentingnya Inovasi
1.      Pengertian
Menurut Wikipedia “inovasi (bahasa Inggris: innovation) diartikan sebagai proses dan/atau hasil pengembangan pemanfaatan pengetahuan, keterampilan teknologis dan pengalaman untuk menciptakan atau memperbaiki produk (barang dan/atau jasa), proses, dan/atau sistem baru, yang memberikan nilai yang berarti atau secara signifikan (terutama ekonomi dan sosial)”. Menurut Komariyah & Triatna (2010: 20) “inovasi adalah suatu gagasan, barang, kejadian, teknik-teknik atau metode yang diamati, disadari, dirasakan dan di terima sebagai hal baru oleh seseorang atau kelompok (masyarakat) baik sebagai hasil discovery maupun invention”.
Innovation menurut Rogers (dalam Komariyah & Triatna, 2010: 19) adalah suatu gagasan, teknik-teknik atau praktik atau benda yang di sadari atau di terima oleh seseorang atau kelompok untuk di adopsi. Robins dalam Komariyah & Triatna, 2010: 19) menyebut inovasi sebagai suatu gagasan baru yang di terapkan untuk memprakarsai atau memperbaiki suatu produk atau proses dan jasa. Freedman (dalam Komariyah & Triatna, 2010: 19) menyebut inovasi sebagai suatu proses pegimplementasian ide-ide baru dengan mengubah konsep kreatif menjadi suatu kenyataan. Berdasarkan beberapa pengertian inovasi di atas dapat disimpulkan inovasi adalah gagasan baru yang diterapkan dalam suatu organisasi untuk memperbaiki dan melanjutkan suatu program dalam menunjang pencapaian tujuan organisasi.  
Menurut Ibrahim dalam Komariyah & Triatna (2010: 19) menjelaskan lebih lanjut kegiatan konsep inovasi, yaitu
a.       Discovery adalah suatu penemuan yang sebenarnya ada atau hal  tersebut sudah ada, tetapi belum di ketahui orang. Seperti newton menemukan hokum grafitasi bumi, yang sebenarnya gaya tarik bumi sudah lama ada atau colombus yang menemukan benua amerika tahun 1492, yang sebenarnya benua itu sudah ada lama, hanya colombus yang pertama kali menjumpai.
b.      Inventation adalah suatu penemuan baru yang benar-benar baru sebagai hasil kreasi manusia. Melalui pengamatan,
pengalaman dan konsistensinyadalam mempelajari atau menelaah sesuatu sampai ke dalam suatu bentuk model yang di akui orang lainsebagai sesuatu yang baru karena belum ada sebelumnya seperti hasil penemuan teori belajar, arsitektur unik bangunan, model pakaian, teknologi rumah tangga, dan sebagainya.

Inovasi memegang peran penting di dalam sekolah, selain dapat menjadi sumber inovasi, sekolah pun menerima dan menjalankan inovasi-inovasi untuk kemajuan sekolah. Oleh karena itu diperlukan adanya kemampuan dalam difusi inovasi. Difusi inovasi mempunyai unsur yang harus dipahami yaitu:
a.       Kejelasan inovasi artinya apakah adopsi, imitasi atau modivikasi ide-ide praktek dan konsep dapat bermanfaat bagi organisasi;
b.      Unsur komunikasi melalui berbagai saluran untuk membagikan ide-ide yang akan dipraktikkan;
c.       Unsur waktu bahwa inovasi memerlukan waktu untuk di pahami dan di ikuti anggota.

2.      Karakteristik inovasi
Pecepatan difusi dapat dilakukan dengan jalan mengenali karakteristik inovasi. Rogers dalam Komariyah & Triatna (2010: 19) mengemukakan karakteristik inovasi yang mempengaruhi cepat atau lambatnya penerimaan inovasi, yaitu sebagai berikut.
a.       Keuntungan relatif inovasi dapat di terima apabila memiliki keuntungan ekonomisdan nonekonomis atau dapat meningkatkan prestis dan status sosial serta menjanjikan imbalan aman di lakukan jikka ti dak di lakukan ada hukuman;
b.      Kesesuaian atau kecocokan yaitu derajat kesesuaian antara nilai, pengalaman dan kebutuhan para adopter dengan nilai inovasi yang di pengaruhi oleh nilai sosio-kultural dan kepercayaan, gagasan yang di miliki masyarakat tertentu, dan kebutuhan masyarakat itu sendiri;
c.       Kerumitan tingkat kesulitan pelaksana inovasi berpengaruh terhadap penerimaan inovasi;
d.      Keterandalan jika inovasi dapat di terapkan pada sampel dan memberikan hasil yang memuaskan maka penerimaan terhadap inovasi menjadi cepat;
e.       Teramati inovasi yang dapat di ajukan secara objektif dan masyarakat dapat mengamatinya, berpengaruh terhadap penerimaan inovasi.

3.      Tipe Adaptor
Menurut Komariyah & Triatna (2010: 23) dalam inovasi, kita tidak dapat mengharapkan penerimaan yang sama untuk setiap orang. Oleh karena itu, kita mengenal beberapa tipe adopter sebagai berikut.
a.       Innovator, yaitu para pembaharu, perintis atau orag yang paling cepat membuka dan menerima dari inovasi, bahkan menjadi pencari inovasi, kelompok ini hanya sedikit saja, yaitu sekitar 2,5 persen, tetapi keberadaanya dapat mempengaruhi kelolmpok lain.
b.      Earlyadopter, yaitu adopter awal yang mengikuti kelompok innovator. Mereka menjadi pengikut innovator karena secara rasioal inovasi ini menampakka perubahan yang berarti. Keberadaan kelompok ini dalam praktek inovasi sekitar 13,5 persen
c.       Early majority, kebanyakan orang dapat mengikuti cara baru apabila cara itu betul-betul telah terbukti memberi manfaat, mereka tidak ingin mengambil resiko dengan keputusan yang tidak jelas. Dalam masyarakat keberadaan mereka sekitar 34 persen.
d.      Late majority, yaitu orangyang sangat hati-hati dan sedikit tertutup dengan ide baru, mereka takut mencoba apabilamenginngat resikonya. Mereka cenderung skeptic dan kalaupun menerima inovasi karena sisitem telah berubah dan akhirya mereka menjadi pengikutpada saat inovasi sudah umum di lakukan oleh orang lain. Kelompok ini berjumlah 34 persen di dalam masyarakat.
e.       Late adopters, yaitu kelompok yang betul-betul skeptic dan ingin  terus berada dalam status quo yang aman, artinya mereka bukan saja penolak inovasi bahkan mereka melakukan agresi untuk menentag terjadinya inovasi. Kelompok ini di masyarakat ada 16 persen.

4.      Proses keputusan inovasi
            Dari paparan tipe adaptor, keputusan akan inovasi dapat di kategorikan pada dua kajian, yaitu penerima dan penolak inovasi. Dalam keadaan apa dan seperti apa penerima inovasi berhubungan dengan proses keputusan inovasi. Sedangkan penolakan inovasi berhubungan dengan kajian mengapa inovasi mengalami hambatan.
            Satori dan Wahyudin (dalam Komariyah & Triatna 2010: 19) mengungkapkan bahwa proses keputusan inovasi pada hakikatnya adalah suatu proses yang di lalui individu atau kelompok, mulai dari pertama kali adanya inovasi, kemudian di lanjutnya dengan keputusan sikap terhadap inovasi, penetapan keputusan untuk menerima atau menolak, implementasi inovasi dan konfrim atas keputusan innovasi yang dipilihnya.
Inovasi sebagai hal buruk tidak serta-merta dapat diterima secara penuh dan langsung oleh anggota, hal ini berkaitan dengan tingkat penerimaan yang dilandasi oleh pengetahuan dan pemehaman anggota yang beragam, oleh karena itu untuk menerapkan inovasi dalam organisasi perlu mulai tahapan menurut Rogers (1983) dalam Komariyah & Triatna (2010: 19) terdiri lima tahapan sebagai berikut:
a.       Dimulai dari tahap pengetahuan (knowledge) yaitu saat seseorang membuka diri terhadap iovasi dan ingin mengetahui fungsi inovasi tersebut.
b.      Tahap bujukan (persuasion) yaitu terkala seseorang atau kelompok membuka diri terhadap inovasi mulai menyenangi atau sebaliknya meragukan inovasi.
c.       Tahap keputusan (decision) yaitu tatkala seseorang atau kelompok pembuka inovasi mulai menampakkan sikap untuk menerima atau menolak inovasi.
d.      Tahap implementasi (implementation) yaitu ketika seseorang atau kelompok mulai menerapkan atau menggunakan inovasi.
e.       Tahap konfirmasi (confirmation) yaitu tahap ketika seseorang atau kelompok mencari penguatan terhadap keputusan inovasi yang telah diambil. Pengambilan keputusan dapat menarik kembali keputusan jika ternyata telah di peroleh informasi tentang inovasi yang bertentangan dengan informasi yang lebih dahulu diterima.

B.       Pengembangan Struktur dan Lingkungan Inovatif Organisasi
1.      Struktur organisasi dan tata kerja
Struktur organisasi menurut Lunenburg dan Ornstein dalam Sagala (2009: 75) adalah
memberikan kerangka organisasi secara vertikal dapat melakukan kontrol dan secara horisontal dapat melakukan koordinasi yang dilatarbelakangi oleh konsep-konsep birokrasi, partisipasi manajemen, dan alternatif model struktur organisasi yang cocok untuk lembaga yang bersangkutan. Oleh karena itu konsep struktur organisasi pendidikan menunjukkan suatu konfigurasi aktivitas yang bertahan dan mantap dengan memperkirakan aktivitas yang mungkin dilakukan untuk mencapai tujuan. Struktur organisasi adalah pola formal bagaimana orang dan pekerja dikelompokkan dalam suatu organisasi, acapkali digambarkan oleh bagan organisasi. Inti pokok dari struktur organisasi adalah membagi-bagi dan mengelompokkan bidang kerja serta menetapkan dan menyusun jalinan hubungan kerja di antara orang-orang, diarahkan pada terciptanya tataraga organisasi yang efisien, lincah, dan logis, sehingga mampu menyelesaikan berbagai permasalahanyang menjadi tanggungjawabnya dan memberikan layanan yang cepat.

 Menurut Robbins dalam Sagala (2008: 77) struktur organisasi adalah bagaimana tugas dan pekerjaan dibagi, dikelompokkan, dan dikoordinasi secara formal. Para manajer perlu menangani 6 unsur utama ketika merancang struktur organisasi yaitu:
a.    Spesialisasi kerja adalah dari pada pekerjaan dilakukan oleh satu individu, lebh baik seluruh pekerjaan itu dipecah-pecah menjadi sejumlah langkah, dengan setiap langkah diselesaikan oleh seorang individu yang berlainan.
b.    Departementalisasi (Departementalization) yaitu mengelompokkan bersama sejumlah pekerjaan. Keunggulan utama dalam pengelompokan ini adalah memperoleh efisiensi dengan mengumpulkan spesialis yang sama.
c.    Rantai komando (Chain of Command) yaitu garis tidak putus dari wewenang yang menjulur dari puncak organisasi ke-esolan terbawah dan memperjelas siapa melapor kepada siapa. Rantai ini menjawab pertanyaan bagi para karyawan mengenai wewenang dan kesatuan komando.
d.   Rentang kendali (Span of Control) adalah jumlah bawahan yang dapat diarahkan secara efisien dan efektif untuk seorang manajer dengan menentukan banyaknya tingkat dan manajer yang harus dimiliki oleh suatu organisasi. 
e.    Sentralisasai dan Desentralisasi (Centralization and Decentralization), dalam beberapa organisasi manajer puncak mengambil semua keputusan.
f.     Formalisasi (Formalization) mengacu sampai tingkat mana pekerjaan dalam organisasi dibakukan.


2.      Lingkungan organisasi
Menurut Hicks dan Gullett dalam Sagala (2008: 133) “lingkungan organisasi memberikan suatu energi, penyaluran dan penerimaan organisasi, sejak lingkungan melanjutkan perubahan, maka proses penyesuaian bagi organisasi atau pencairan merupakan proses yang dinamis dan peka terhadap pertanggungjawaban tertentu”. Pendapat ini didukung Jones dalam Sagala (2008: 133) mengatakan “lingkungan organisasi adalah sekumpulan sumber-sumber disekitar organisasi mencakup bahan-bahan mentah dan juga para pekerja terampil untuk memproduksi barang dan jasa”.
Lingkungan organisasi diasumsikan penting bagi individu dalam organisasi dan juga bagi organisasi itu sendiri. Kelangsungan hidup organisasi sepenuhnya tergantung pada kemampuan organisasi itu sendiri menyesuaikan diri terhadap perubahan dan tanggap pada lingkungan. Perubahan harus terjadi karena menurut Kasali dalam Sagala (2008:134) “manusia terus tercipta, melahirkan karya-karya baru, dan perubahan terus mengikutinya”.
Menurut Sagala (2008: 138) lingkungan organisasi pendidikan dapat dibagi menjadi
(1) lingkungan internal organisasi pendidikan pada tataran provinsi, kabupaten/kota, dan sekolah terdiri dari pemimpin,para pengikut pimpinan itu, atasan, karyawan sejawat, organisasi, dan tuntutan pekerjaan. Lingkungan ini tidaklah inklusif, tetapi berisi beberapa komponen yang saling berinteraksi dan penting diketahui pemimpin, dan (2) lingkungan eksternal memberi pertimbangan ekologis atas suatu pertumbuhan gerakan para konsumen (orangtua murid dan masyarakat) yang menganjurkan kualitas, keselamatan dan keamanan produk (layanan belajar dan kualitas lulusan), kelangsungan suatu produk barang atau jasa yang bermanfaat, tekanan untuk memprakarsai memoertahankan sistem kesejahteraan dan kebijaksanaan personalia yang jujur, dan memuaskan yang menunjang kelanjutan proses pendidikan yang bermutu dimana keberhasilannya tergantung pada interaksi organisasi terhadap lingkungan, serta integrasi yang baik antara tujuan nasional dan internasional.

Menurut Sagala (2008: 139) lingkungan organisasi sekolah yang dihadapi para manajer sekolah dapat memiliki beberapa variabel situasional yang khusus juga lingkungan eksternal yang mempengaruhinya. Sebelum menentukan kebijakan, tentu saja analisis terhadap lingkungan organisasi pendidikan menjadi penting karena
(1) kaidah lingkungan organisasi pendidikan secara fundamental berpengaruh terhadap aktivitas pendidikan misalnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, pertumbuhan ekonomi, pasar tenaga kerja dan kebutuhan akan sumber daya manusia baik oleh lembaga pemerintah maupun non pemerintah, (2) aktivitas operasional seperti perkembangan kurikulum, strategi belajar mengajar, teknologi pendidikan, manajemen pendidikan, perubahan lingkungan, evaluasi hasil belajar, dan memastikan kesuksesan memperoleh mutu layanan belajar yang tinggi, dan (3) penerapan manajemen strategi dalam penyelenggaraan pendidikan dimulai dengan penyusunan rencana strategi setelah mempertimbangkan kemungkinan adanya perubahan dalam lingkungan internal maupun eksternal.

C.      Teknik Motivasi Staf untuk Berinovasi
Menurut Mangkunegara (2007: 76) terdapat beberapa teknik untuk memotivasi kerja pegawai, antara lain sebagai berikut:
1.        Teknik Pemenuhan Kebutuhan
Pemenuhan kebutuhan pegawai merupakan fundamental yang mendasari perilaku kerja. Kita tidak mungkin dapat memotivasi kerja pegawai tanpa memperhatikan apa yang dibutuhkan. Menurut Maslow (dalam Mangkunegara, 2007: 76) mengemukakan hierarki kebutuhan pegawai sebagai berikut:
a.         Kebutuhan fisiologis, yaitu kebutuhan makan, minum, perlindungan fisik, bernafas dan seksual. Kebutuhan ini merupakan kebutuhan yang paling mendasar. Dalam hubungan dengan kebutuhan ini pemimpin perlu memberikan gaji yang layak pada pegawai.
b.        Kebutuhan rasa aman, yaitu kebutuhan perlindungan dari ancaman, bahaya dan lingkungan kerja. Dalam hubungan dengan kebutuhan ini, pemimpin perlu memberikan tunjangan kesehatan, asuransi kecelakaan, perumahan dan dana pensiun.
c.         Kebutuhan sosial atau rasa memiliki, yaitu kebutuhan untuk diterima dalam kelompok unit kerja, berafiliasi, berinteraksi, serta rasa dicintai dan mencintai. Dalam hubungan dengan kebutuhan ini, pemimpin perlu menerima eksistensi atau keberadaan pegawai sebagai anggota kelompok kerja, melakukan interaksi kerja yang baik dan hubungan kerja yang harmonis.
d.        Kebutuhan harga diri, yaitu kebutuhan untuk dihormati, dihargai oleh orang lain. Dalam hubungan dengan kebutuhan ini, pemimpin tidak boleh sewenang-wenang memperlakukan pegawai karena mereka perlu dihormati, diberi penghargaan terhadap prestasi kerjanya.
e.         Kebutuhan aktualisasi diri, yaitu kebutuhan untuk mengembangkan diri dan potensi, mengemukakan ide-ide, memberikan penilaian, kritik dan berprestasi. Dalam hubungannya dengan kebutuhan ini, pemimpin perlu memberikan kesempatan kepada pegawai  bawahan agar mereka dapat mengaktualisasikan diri secara baik dan wajar di perusahaan.


2.      Teknik Komunikasi Persuasif
Teknik komunikasi persuasif merupakan salah satu teknik memotivasi kerja pegawai yang dilakukan dengan cara mempengaruhi pegawai secara ekstralogis. Teknik ini dirumuskan dalam “ADIDAS”.
·           A = Attention (Perhatikan)
·            I = Interest (Minat)
·           D = Desire (Hasrat)
·           D = Decision (Keputusan)
·           A = Action (Aksi/Tindakan)
·           S = Satisfaction (Kepuasan)
Dalam penggunaannya, pertama kali pemimpin harus memberikan perhatian kepada pegawai tentang pentingnya tujuan dari suatu pekerjaan agar timbul minat pegawai terhadap pelaksanaan kerja. Jika telah timbul minatnya, maka tindakan kerja dalam mencapai tujuan yang diharapkan oleh pemimpin. Dengan demikian, pegawai akan bekerja dengan motivasi tinggi dan merasa puas terhadap hasil kerjanya.
D.      Mendesain dan Mengembangkan Model Kepemimpinan Partisipatif untuk Pemberdayaan Staf
Dessler (2002:27) mengatakan “bahwa menjadi pemimpin yang  partisipatif berarti melibatkan anggota tim dalam pembuatan keputusan. Hal ini sangat penting apabila pemikiran kreatif diperlukan untuk memecahkan masalah yang kompleks atau membuat keputusan yang akan berdampak pada anggota tim”. Adapun definisi kepemimpinan partisipatif menurut Yuki dalam Husain & Walidun (2011:12) terdapat empat poin penting yaitu:
1.    Mengembangkan dan mempertahankan hubungan
2.    Memperoleh dan memberi informasi
3.    Membuat keputusan
4.    Mempengaruhi orang
Gaya kepemimpinan partisipatif lebih menekankan pada tingginya dukungan dalam pembuatan keputusan dan kebijakan tetapi sedikit pengarahan. Gaya pemimpin yang tinggi dukungan dan rendah pengarahan dirujuk sebagai “partisipatif” karena posisi kontrol atas pemecahan masalah dan pembuatan keputusan dipegang secara bergantian. Dengan penggunaan gaya partisipatif ini, pemimpin dan bawahan saling tukar menukar ide dalam pemecahan masalah dan pembuatan keputusan. Dalam aktivitas menjalankan organisasi, pemimpin yang menerapkan gaya ini cenderung berorientasi kepada bawahan dengan mencoba untuk lebih memotivasi bawahan dibandingkan mengawasi mereka dengan ketat. Mereka mendorong para anggota untuk melaksanakan tugas-tugas dengan memberikan kesempatan bawahan untuk berpartisipasi dalam pembuatan keputusan, menciptakan suasana persahabatan serta hubungan-hubungan saling mempercayai dan menghormati dengan para anggota kelompok.
Selain itu gaya ini berupaya untuk meningkatkan kesadaran bawahan terhadap persoalan-persoalan dan mempengaruhi bawahan untuk melihat perspektif baru. Melalui gaya ini, pemimpin terus merangsang kreativitas bawahan dan mendorong untuk menemukan pendekatan-pendekatan baru terhadap masalah-masalah lama. Bawahan didorong untuk berpikir mengenai relevansi cara, sistem nilai, kepercayaan, harapan, dan bentuk organisasi yang ada. Bawahan didorong untuk melakukan inovasi dalam menyelesaikan persoalan dan berkreasi untuk mengembangkan kemampuan diri, didorong untuk menetapkan tujuan atau sasaran yang menantang. Dengan kata lain, bawahan diberi kesempatan untuk mengekspresikan dan mengembangkan dirinya melalui tugas-tugas yang dihadapinya. Pemimpin gaya partisipatif menunjukkan perilaku dan perhatian terhadap anak buah yang sifatnya individual (individual consideration). Artinya dia bisa memahami dan peka terhadap masalah dan kebutuhan tiap-tiap anak buahnya. Hal ini tercermin dari persepsi anak buah yang merasa bahwa sang pemimpin mampu memahami dirinya sebagai individu. Setiap anak buah merasa dekat dengan pemimpinnya dan merasa mendapat perhatian khusus. Perhatian individual dapat berupa aktivitas pembimbingan dan mentoring, yang merupakan proses pemberian feedback yang berkelanjutan dan pengkaitan misi organisasi dengan kebutuhan individual sang anak buah. Dengan demikian anak buah akan merasakan pentingnya berusaha dan bekerja semaksimal mungkin atau menunjukkan kinerja yang tinggi karena itu terkait langsung dengan kebutuhannya sendiri. Bawahan lebih merasa memiliki respek terhadap atasan yang kompeten dibandingkan atasan yang lebih mengedepankan aspek struktur.
Gaya kepemimpinan partisipatif menyangkut usaha-usaha seorang pemimpin untuk mendorong dan memudahkan partisipasi oleh orang lain dalam membuat keputusan-keputusan yang tidak dibuat oleh pemimpin itu sendiri. Gaya kepemimpinan partisipatif adalah seorang pemimpin yang mengikutsertakan bawahan dalam pengambilan keputusan Ranupandojo (2000:75). Adapun aspek-aspek dalam gaya kepemimpinan partisipatif mencakup konsultasi, pengambilan keputusan bersama, membagi kekuasaan, desentralisasi dan manajemen yang demokratis. Indikator langsung dari adanya kepemimpinan partisipatif ini terletak pada perilaku para pengikutnya yang didasarkan pada persepsi karyawan terhadap gaya kepemimpinan yang digunakan menurut Thoha (2004:46).
Kepemimpinan partisipatif berhubungan dengan penggunaan berbagai prosedur putusan yang memperbolehkan pengaruh orang lain mempengaruhi keputusan pemimpin. Menurut Burhanuddin dalam Syamsuri (2014:4) kepemimpinan partisipatif merupakan salah satu dari gaya kepemimpinan yang dipakai oleh mereka yang dipercaya, yaitu dengan kepercayaan dan kredibilitasnya itu kemudian memotivasi orang-orang yang melibatkan mereka dalam proses pengambilan keputusan. Dengan demikian, kepemimpinan partisipatif adalah kepemimpinan yang memberikan ruang dan peran secara signifikan kepada bawahan dalam menjalankan aktivitas proses pengambilan keputusan.
Sedangkan menurut Pasolong (2008:21)  kepemimpinan yang berhubungan dengan kelompok yaitu: (1) Memulai (iniating) yaitu usaha agar kelompok mulai kegiatan atau gerakan tertentu. (2) Mengatur (regulating) yaitu tindakan untuk mengatur arah dan langkah kegiatan, (3) Memberitahu (informating) yaitu kegiatan memberi informasi, data fakta, pendapat para anggota dan meminta mereka informasi yang diperlukan, (4) Mendukung (supporting) yaitu usaha untuk menerima gagasan, pendapat dari bawah dan menyempurnakannya dengan menambah atau mengurangi dalam rangka digunakan untuk menyelesaikan tugas bersama, (5) Menilai (evaluating) yaitu tindakan untuk menguji gagasan sebagai konsekuensi untung ruginya, (6) Menyimpulkan (summarizing) yaitu kegiatan untuk menyimpulkan pendapat-pendapat sebagai landasan untuk memikirkan lebih lanjut.
Berikut ini ada beberapa contoh desain kepemimpinan partisipatif untuk memberdayakan staf, yaitu:
1.      Memberdayakan tenaga kependidikan melalui kerja sama atau kooperatif.
Maksudnya bahwa dalam meningkatkan profesionalisme tenaga kependidikan di sekolah, kepala sekolah harus mementingkan kerja sama dengan tenaga pendidikan dan pihak lain yang terkait dalam melaksanakan setiap kegiatan. Sebagai manajer, kepala sekolah harus mau dan mampu mendayagunakan seluruh sumber daya sekolah dalam rangka mewujudkan visi, misi dan mencapai tujuan. Kepala sekolah harus mampu bekerja melalui orang lain (wakil-wakilnya), serta berusaha untuk senantiasa mempertanggungjawabkan setiap tindakan. Kepala sekolah, berpikir secara analitik dan konseptual, dan harus senantiasa berusaha untuk menjadi juru penengah dalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapi oleh para tenaga kependidikan yang menjadi bawahannya, serta berusaha untuk mengambil keputusan yang memuaskan bagi semua.
2.      Memberikan kesempatan kepada para tenaga kependidikan untuk meningkatkan profesinya.
Sebagai manajer, kepala sekolah harus meningkatkan persuasif dan dari hati ke hati. Dalam hal ini, kepala sekolah harus bersikap demokratis dan memberikan kesempatan kepada seluruh tenaga kependidikan untuk mengembangkan potensinya secara optimal. Misalnya memberi kesempatan kepada bawahan untuk meningkatkan profesinya melalui berbagai penataran dan lokakarya sesuai dengan bidang masing-masing.
3.      Mendorong keterlibatan seluruh tenaga kependidikan,
yaitu kepala sekolah harus berusaha untuk mendorong keterlibatan semua tenaga kependidikan dalam setiap kegiatan disekolah (partisipatif). Dalam hal ini, kepala sekolah berpedoman pada asas tujuan, asas keunggulan, asas mufakat, asas kesatuan, asas empirisme, asas keakraban, dan asas integritas.


DAFTAR RUJUKAN

Dessler. 2002. Manajemen Sumber Daya Manusia. Edisi Bahasa Indonesia Jilid 2. Jakarta: PT. Prenhallindo.
Husain & Walidun. 2011. Partisipative Leadership. Bandung: MQS Publishing.
Komariyah & Triatna. 2010. Visionary Leadership. Jakarta: Bumi Aksara.
Mangkunegara, A.P. 2007. Evaluasi Kinerja SDM. Bandung: PT. Refika Aditama. Mustiningsih. 2013. Pengantar Kepemimpinan Pendidikan. Malang: FIP UM.
Pasolong & Harbani. 2008. Kepemimpinan Birokrasi.  Bandung; Alfabeta.
Ranupandojo, H, Suad Husnan. 2000. Manajemen Sumber Daya Manusia. Yogyakarta: BPFE-UGM.
Sagala, S. 2009. Memahami Organisasi Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Syamsuri. 2014. Kepemimpinan Partisipatif dan Pendelegasian Wewenang. Jakarta; PT. Bumi Aksara. 
Thoha, M. 2004. Perilaku Organisasi: Konsep Dasar dan Aplikasinya. Jakarta: Rajawali Pers



0 komentar:

Posting Komentar